WantaraMaluku.com, Bola Bumi - Di tengah ramainya pembicaraan tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG), berbagai pangan tradisional perlahan mulai kehilangan tempat dalam keseharian masyarakat. Tradisi pangan kerap hanya hadir sebagai pelengkap festival, sementara generasi muda semakin jauh dari makanan warisan daerahnya sendiri. Salah satunya adalah inasua.
Bagi masyarakat Teon, Nila, Serua (TNS), Maluku Tengah, inasua bukan sekadar panganan khas, melainkan bagian dari identitas. Jauh sebelum masyarakat TNS direlokasi ke Pulau Seram pada 1978, inasua senantiasa hadir di piring leluhur mereka. Penganan berbahan dasar ikan (ina) dan garam (sua) itu biasa disantap bersama kasbi (singkong) atau pisang kukus. Di balik rasanya yang asin dan kuat, tersimpan jejak panjang kehidupan masyarakat kepulauan yang hidup berdampingan dengan laut.
Jumat, (05/06/2026).
Inasua lahir dari pengetahuan tradisional masyarakat pesisir dalam mengolah hasil tangkapan agar tahan lama. Di masa ketika teknologi pendingin masih berupa angan-angan, leluhur TNS telah mengenal teknik pengawetan yang sederhana tetapi efektif. Daging ikan yang telah dibersihkan direndam atau dilumuri garam, lalu disimpan di dalam wadah tertutup seperti bambu atau jeriken. Berbeda dengan ikan asin yang mengandalkan penjemuran, inasua dibuat melalui fermentasi alami selama dua hingga tiga bulan.
Hasilnya bukan hanya makanan bercita rasa khas, tetapi juga pangan yang mampu bertahan lama. Karena itu, inasua pernah memainkan peran penting dalam ketahanan pangan masyarakat TNS, terutama saat cuaca buruk menghalangi nelayan melaut. Inasua juga kerap menjadi bekal perjalanan bagi leluhur yang menempuh pelayaran jarak jauh.
Namun, seperti banyak warisan budaya lain, inasua perlahan mulai terpinggirkan. Padahal, makanan ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015. Generasi muda TNS yang lahir pascarelokasi ke Pulau Seram tumbuh di tengah arus makanan cepat saji dan budaya populer yang dinamis. Akibatnya, inasua mulai jarang hadir di meja makan dan hanya muncul pada acara tertentu.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bagi sebagian masyarakat TNS. Sebab ketika sebuah makanan hilang dari keseharian masyarakat, yang ikut hilang bukan hanya rasa, melainkan juga ingatan kolektif sebuah komunitas. Di situlah pentingnya berbagai upaya pelestarian budaya dilakukan, salah satunya melalui Festival Ko’a Inasua yang digelar pada medio April 2026 lalu. Festival itu bukan semata perayaan kuliner, melainkan ruang untuk memperkenalkan kembali identitas TNS kepada generasi muda.
Akan tetapi, pelestarian budaya tidak cukup berhenti pada seremoni tahunan. Tradisi hanya dapat bertahan jika tetap hidup dalam keseharian masyarakat. Karena itu, gagasan memperkenalkan inasua melalui program MBG layak dipertimbangkan, khususnya di Pulau Seram yang kini menjadi tempat bermukim masyarakat TNS.
Gagasan tersebut bukan tanpa dasar. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) telah membuka ruang bagi menu MBG berbasis pangan lokal. Menu program ini disebut tidak dibuat seragam, melainkan menyesuaikan potensi daerah masing-masing. Mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, pernah menyebut pihaknya telah menyusun puluhan buku menu berbasis hidangan khas daerah, termasuk menu khas Maluku dan wilayah timur Indonesia lainnya.
Dengan pendekatan tersebut, sebenarnya tidak ada alasan untuk menutup peluang hadirnya inasua dalam menu MBG di wilayah Maluku. Apalagi, inasua tidak hanya sarat nilai budaya, tetapi juga memiliki potensi gizi yang baik. Berbahan dasar ikan laut, inasua kaya protein yang penting bagi pertumbuhan anak.
Dalam studi berjudul "Ina sua: The traditional Food Fermentation from Teon Nila Serua, Central of Maluku, Indonesia" yang tayang di Journal of Ethnic Foods, roses fermentasi alami selama berbulan-bulan tersebut digambarkan membantu mengurai protein menjadi asam amino dan peptida yang lebih mudah dicerna tubuh.
Jika diolah secara higienis dan disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak sekolah, inasua dapat menjadi alternatif pangan lokal yang sehat sekaligus ekonomis. Selain itu, penggunaan bahan pangan lokal juga akan melibatkan nelayan dan masyarakat pesisir dalam rantai penyediaan MBG. Hal tersebut jauh lebih masuk akal dibanding ketergantungan pada makanan olahan pabrik yang minim kedekatan budaya dengan masyarakat setempat.
Lebih dari itu, menghadirkan inasua dalam MBG juga dapat menjadi medium pendidikan budaya. Anak-anak sekolah tidak hanya makan untuk kenyang, tetapi sekaligus belajar mengenal akar identitasnya sendiri. Mereka dapat memahami bahwa makanan tradisional bukan sesuatu yang usang, melainkan warisan leluhur yang layak dibanggakan.
Pembicaraan tentang inasua juga tidak dapat dipisahkan dari isu laut dan konservasi. Sebagai makanan yang bergantung pada hasil tangkapan nelayan, keberlangsungan inasua sangat ditentukan oleh kesehatan ekosistem laut. Jika laut tercemar, penangkapan ikan dilakukan secara berlebihan, atau kawasan pesisir rusak, maka bahan baku inasua perlahan akan semakin sulit diperoleh.
Secara tradisional, inasua dahulu banyak dibuat menggunakan ikan babi atau oilfish (Ruvettus pretiosus) yang hidup di sekitar Laut Banda. Namun karena semakin sulit ditemukan, masyarakat kini menggunakan jenis ikan lain seperti bobara, ikan kakatua, kerong-kerong, dan ekor kuning. Perubahan itu menunjukkan bahwa tradisi pangan masyarakat pesisir sangat bergantung pada kondisi laut yang terus berubah.
Karena itu, menjaga tradisi inasua berarti pula menjaga laut. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi Maluku bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) tengah merancang pembentukan kawasan konservasi di perairan Pulau Teon, Nila, dan Serua. Upaya tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut, habitat ikan, serta ruang hidup masyarakat pesisir yang selama ini menggantungkan hidup pada laut.
Bagi masyarakat TNS, laut merupakan ruang ekonomi sekaligus bagian dari identitas sosial dan kultural mereka. Ketika masyarakat menjaga lautnya, sesungguhnya mereka sedang menjaga keberlangsungan budaya leluhur.
Melalui sepiring inasua, terdapat pelajaran penting tentang identitas, gizi, dan konservasi. Makanan tradisional bukan semata urusan perut, melainkan cerminan hubungan manusia dengan sejarah dan lingkungannya. Di tengah perubahan zaman, mungkin sudah saatnya inasua tidak hanya dikenang sebagai kuliner moyang, tetapi kembali hadir di piring generasi masa depan.(**)

