Orang Maluku di Belanda; Jejak Pengasingan Pergulatan Identitas Oleh: Hanny Nur Fadhilah - WANTARA MALUKU

ARTIKEL LAIN

Deskripsi gambar

Jumat, 05 Juni 2026

Orang Maluku di Belanda; Jejak Pengasingan Pergulatan Identitas Oleh: Hanny Nur Fadhilah


WantaraMaluku.com, Bola Bumi - Perjalanan panjang orang Maluku di tanah Belanda berawal dari keputusan politik yang tak mereka minta: pengasingan sementara pada 1951, yang kemudian berubah menjadi lintasan hidup antargenerasi.


Buku In Nederland gebleven: De geschiedenis van Molukkers 1951 tot 2025 (Bertahan di Belanda: Sejarah Orang Maluku 1951 hingga 2025) karya Henk Smeets dan Fridus Steijlen menyingkap sejarah politik dan pengalaman kolektif, menampilkan bagaimana kedatangan singkat itu berkembang menjadi pergulatan panjang tentang identitas, integrasi, dan warisan.

Sabtu, (06/06/2026).

Dengan ketelitian empatik, Smeets dan Steijlen menulis ulang kisah komunitas Maluku sebagai sejarah ketahanan dan penafsiran ulang. Buku ini merevisi ingatan kolektif dan memperkaya pemahaman, menunjukkan bahwa identitas Maluku tidak hilang karena integrasi, tetapi terus dibentuk dan didefinisikan ulang dari waktu ke waktu.


Awal Mula Orang Maluku di Belanda


Kisah dimulai dengan kedatangan lebih dari dua belas ribu mantan tentara KNIL asal Maluku beserta keluarga mereka pada 1951 di Belanda. Masa tinggal mereka awalnya dirancang sementara, sebuah keyakinan yang menempel kuat dalam ingatan bersama mereka.


Generasi pertama hidup terpisah dari masyarakat Belanda, tinggal di kamp-kamp yang memelihara bayangan kepulangan. Baru setelah mereka berpindah ke permukiman baru pada 1960–1970-an, gagasan “sementara” perlahan bergeser menjadi kenyataan kehadiran permanen.


Generasi kedua tumbuh dalam ruang di antara dua dunia. Mereka mewarisi cita-cita Republik Maluku Selatan (RMS) serta harapan pulang, namun pada saat yang sama masuk ke dunia pendidikan dan pekerjaan Belanda.


Sementara generasi pertama tetap berpegang pada harapan untuk kembali, anak-anak mereka tumbuh dengan pergulatan berbeda, yaitu mencari tempat dalam masyarakat yang hanya mengenali sebagian dari identitas mereka.


Eksekusi Presiden RMS, Chris Soumokil, pada 1966 serta gelombang emansipasi global pada akhir 1960–1970-an menjadi pemicu kesadaran politik yang lebih tajam. Organisasi pemuda politik Maluku bermunculan dan menempatkan isu RMS dalam lanskap internasional melalui pendidikan serta kolaborasi dengan gerakan anti-kolonial lainnya.


Namun ketegangan juga mencapai puncaknya. Penyanderaan di Wijster (1975) dan De Punt (1977) mengguncang Belanda dan memperlihatkan jurang antara idealisme dan realitas. Masa ini menjadi periode ketika komunitas Maluku menemukan kembali suaranya, meski harus berhadapan dengan disrupsi sosial dan gelombang kesalahpahaman publik.


Tahun-tahun penuh tensi itu mendorong perubahan kebijakan dan cara komunitas direpresentasikan. Setelah peristiwa seperti evakuasi keras permukiman Vaassen (1976), perhatian mulai bergeser ke desain kelembagaan dan ekspresi budaya. Inisiatif seni dan musik, termasuk Moluccan Moods (1982–1984) menawarkan cara baru memahami identitas Maluku di ruang publik.


Memasuki 1990-an, pemerintah mengalihkan tanggung jawab dari model “khusus Maluku” ke tingkat kota, membuka diskusi baru tentang otonomi, swadaya, dan pelestarian warisan. Periode ini menandai fase reorientasi, ketika komunitas berupaya menempatkan sejarah dan budaya mereka secara lebih kokoh dalam ingatan kolektif Belanda.


Pergulatan Identitas Antargenerasi


Sejak akhir 1980-an hingga 1990-an, posisi komunitas Maluku bergerak dari gerakan kolektif menuju masyarakat yang semakin terdiferensiasi. Batas antara kehidupan politik dan keseharian memudar.


Sementara pemerintah mendorong normalisasi dan integrasi, muncul inisiatif internal untuk menjaga sejarah tetap hidup—terutama melalui kelompok pemuda, peringatan budaya, dan karya seni.


Namun, ketegangan antargenerasi tetap terasa, terutama terkait posisi RMS dalam identitas kontemporer. Di sinilah buku ini menemukan salah satu nadinya: bagaimana perjuangan politik memberi jalan bagi ekspresi budaya dan partisipasi sosial, tanpa menghapus jejak sejarah.


Smeets dan Steijlen kemudian menyoroti generasi ketiga dan keempat. Generasi ketiga tampil lebih percaya diri: kritis, sadar, dan aktif menilai kembali warisan Maluku melalui seni, budaya, dan aktivisme sosial. Mereka tumbuh di luar bayang-bayang kamp-kamp lama, sekaligus membawa kenangan yang diwariskan.


Generasi keempat melangkah lebih jauh. Bagi mereka, identitas adalah proses yang terus berubah, dibentuk oleh media digital, seni, pendidikan, dan ingatan keluarga. Ritual mengenang tidak lagi menjadi beban, melainkan sumber kreativitas dan refleksi.


Para penulis menunjukkan bahwa identitas Maluku bukanlah sesuatu yang pudar, melainkan semakin terasah lewat perjumpaan antara tradisi yang dibawa dan pengalaman hidup di tempat baru. Pada bagian akhirnya, buku ini merangkum perjalanan panjang tersebut dengan sebuah metafora yang kuat: aliran sejarah Maluku terus bermuara di lanskap multikultural Belanda.


Kadang perhatian nasional membuat sejarah Maluku tampak mencuat ke permukaan, namun arus bawah yang mengingatkan pada ketidaksetaraan dan luka kolonial tetap mengalir. Melalui ketahanan, pengorganisasian diri, dan penafsiran ulang identitas, komunitas Maluku menjadi contoh bagi kelompok migran lain di Belanda.


In Nederland gebleven bukan sekadar rangkuman peristiwa, melainkan studi bernuansa tentang dampak kolonialisme pada masa kini. Tanpa nostalgia maupun kutukan, Smeets dan Steijlen menjembatani sejarah dan ingatan, menunjukkan bahwa kisah Maluku tetap menjadi cermin bagaimana Belanda menghadapi warisan kolonialnya.(**)

BERITA LAIN