WantaraMaluku.com, Bola Bumi - Masyarakat pesisir di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS), Kabupaten Maluku Tengah, kembali menegaskan ikatan erat mereka dengan samudera melalui penyelenggaraan Festival Kor’a Inasua pada 10-11 April 2026 lalu.
Perhelatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah ruang ekspresi budaya yang didesain untuk mengedukasi publik mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi pangan dan kesehatan ekosistem laut.
Inasua, produk ikan fermentasi yang menjadi jiwa dari festival ini, telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak tahun 2015.
Namun, di tengah perubahan zaman dan tantangan lingkungan, bagaimana kearifan lokal seperti inasua mampu menjadi benteng pertahanan bagi konservasi laut sekaligus mesin penggerak ekonomi bagi masyarakat TNS?
Inasua lahir dari kecerdasan masyarakat TNS dalam menyiasati keterbatasan pangan saat musim angin kencang melanda. Metode pengawetan ikan dengan garam ini mencerminkan pengetahuan lokal dalam mengelola hasil tangkapan secara efisien.
Ikan yang digunakan sering kali berasal dari perairan laut dalam, yang menuntut ekosistem laut yang tetap sehat sebagai penyedia bahan baku utama.
Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, menekankan bahwa inasua adalah identitas yang tidak bisa dipisahkan dari alam. "Dalam hal ini, menjaga laut menjadi berkorelasi antara kelestarian lingkungan dengan keberlanjutan budaya dan ekonomi masyarakatnya," jelas Zulkarnain dalam sambutannya di festival tersebut.
Salah satu fokus utama festival tahun 2026 ini adalah pemberdayaan kelompok perempuan sebagai aktor kunci ekonomi pesisir. Melalui berbagai pelatihan, para perempuan TNS dibekali keterampilan untuk meningkatkan standar produksi inasua, mulai dari aspek higienitas hingga keamanan pangan.
Selain teknis produksi, mereka juga mendapatkan literasi keuangan terkait pencatatan dan perencanaan usaha serta pengembangan strategi pemasaran berbasis olahan inasua. Penguatan kapasitas ini bertujuan agar nilai ekonomi inasua meningkat tanpa merusak tatanan sosial dan alam yang ada.
Di sisi lain, regenerasi pengetahuan menjadi agenda krusial agar budaya ini tidak berhenti di satu generasi. Festival Kor’a Inasua melibatkan kaum muda melalui kompetisi konten media sosial, permainan edukasi konservasi, serta pelatihan lingkungan hidup. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran bahwa laut adalah aset masa depan yang harus dikelola dengan bijak.
Camat Teon Nila Serua, Ronald Wonmaly, melihat kegiatan ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat kesadaran kolektif.
"Kami mendorong masyarakat untuk terus menjaga praktik-praktik lokal yang bijak dalam memanfaatkan hasil laut," tutur Ronald, seraya menambahkan bahwa festival ini adalah ruang belajar bersama tentang kesehatan laut bagi kehidupan sehari-hari.
Pendekatan budaya ini juga diperkuat dengan perspektif adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat. Ketua Badan Latupati Kecamatan TNS, Natanel Tuakora, mengingatkan bahwa nilai-nilai leluhur selalu mengedepankan prinsip kecukupan.
"Adat mengajarkan kami untuk tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan. Laut adalah warisan leluhur yang harus dijaga, agar tetap memberi kehidupan bagi generasi berikutnya," ungkap Natanel.
Hal ini sejalan dengan keterlibatan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang memberikan dukungan penuh melalui program kelautan di Pulau TNS. YKAN berperan dalam mendorong promosi pangan tradisional dan edukasi konservasi yang berbasis pada kearifan lokal masyarakat setempat.
Fakta menarik yang diangkat dalam festival ini adalah pemilihan bahan baku inasua. Salah satu jenis yang paling digemari adalah ikan babi, atau iwawi yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai ikan gindara (Ruvettus pretiosus) dari keluarga Gempylidae. Keberadaan ikan laut dalam ini sangat bergantung pada kondisi habitat yang terjaga.
Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menyatakan bahwa praktik inasua sangat relevan dengan prinsip konservasi modern karena mengutamakan efisiensi.
"Kami melihat bahwa penguatan adat dan budaya lokal merupakan fondasi penting dalam mendorong praktik perikanan berkelanjutan," ujar Ilman. Ia juga menyebutkan bahwa langkah ini sejalan dengan rancangan kawasan konservasi perairan di TNS yang tengah disusun oleh pemerintah bersama YKAN.
Melalui sinergi antara pemerintah daerah, pemangku adat, dan mitra pembangunan, Festival Kor’a Inasua 2026 membuktikan bahwa pelestarian budaya dan perlindungan alam dapat berjalan beriringan.
Kesuksesan festival ini memberikan pesan kuat bahwa laut yang sehat adalah prasyarat mutlak bagi keberlanjutan ekonomi dan identitas budaya masyarakat pesisir. Dengan menjaga tradisi pengolahan inasua, masyarakat TNS secara tidak langsung sedang menjaga masa depan ekosistem laut mereka sendiri, oleh: Ade S.(**)
